
Jayapura– Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Papua, Anthonius Mathius Ayorbaba, SH, M.Si., menjadi narasumber pada Seminar Nasional Sagu Papua 2026 yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Festival COLO Sagu III dengan tema “Sagu Menghidupi: Dari Tradisi Menuju Kemandirian Ekonomi”. Kegiatan tersebut diadakan secara hybrid di Gedung Pusat Sains dan Kemitraan Universitas Cenderawasih, Jayapura, Sabtu (20/6/2026).
Seminar Nasional Sagu Papua 2026 menghadirkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari unsur pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, serta pemerhati lingkungan untuk membahas berbagai aspek pengembangan dan pelestarian sagu sebagai strategi komoditas Papua.
Pada Panel 2 yang mengangkat tema “Proteksi Sagu (Hak Ulayat, Lingkungan, Regulasi, dan Konservasi)”, Kakanwil Kemenkum Papua menyampaikan materi berjudul “Regulasi dan Prioritas Pendaftaran Indikasi Geografis Sagu untuk Meningkatkan Daya Saing dan Investasi Daerah.”
Dalam pemaparannya, Anthonius Mathius Ayorbaba menjelaskan bahwa sagu tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mengandung nilai budaya, sosial, dan kearifan lokal yang harus dilindungi melalui instrumen hukum yang tepat. Salah satu langkah strategi yang dapat dilakukan adalah mendorong pendaftaran Indikasi Geografis (IG) terhadap produk-produk sagu khas Papua.
Menurutnya, perlindungan melalui Indikasi Geografis dapat memberikan kepastian hukum terhadap produk unggulan daerah, meningkatkan nilai tambah produk, memperkuat identitas daerah, serta membuka peluang investasi dan akses pasar yang lebih luas bagi masyarakat.
“Pendaftaran Indikasi Geografis merupakan salah satu bentuk perlindungan hukum terhadap kekayaan daerah yang memiliki karakteristik dan kualitas khas. Sagu Papua memiliki potensi besar untuk memperoleh perlindungan tersebut sehingga dapat meningkatkan daya saing produk sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat adat dan pelaku usaha lokal,” jelas Anthonius.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perlindungan sagu tidak hanya berbicara mengenai aspek ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan pelestarian lingkungan, perlindungan hak ulayat masyarakat adat, serta keberlangsungan sumber daya alam Papua.
Kakanwil juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi dalam mempercepat upaya perlindungan dan pengembangan potensi sagu melalui pendekatan regulasi yang kuat serta pemberdayaan masyarakat sebagai pemilik dan pengelola sumber daya sagu.
Seminar yang dilaksanakan secara hybrid tersebut mendapat antusiasme tinggi dari peserta yang hadir secara langsung maupun berani. Berbagai gagasan dan rekomendasi disampaikan untuk memperkuat posisi sagu sebagai identitas budaya Papua sekaligus sebagai strategi komoditas yang mampu mendukung ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi daerah.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun komitmen bersama dalam menjaga, melindungi, dan mengembangkan sagu Papua agar tetap lestari serta mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat dan pembangunan daerah di masa mendatang.
Kegiatan seminar sagu nasional pada panel 2 diakhiri dengan penyerahan Kajian Atas Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) Papua Tentang Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Orang Asli Papua oleh Kakanwil Kemenkum Papua Anthonius Mathius Ayorbaba kepada ketua Bapemberda yang juga merupakan Anggota DPRP Papua Benyamin Arisoi untuk membahas lebih lanjut di tingkat DPRP nantinya.



==============
Transformasi Budaya Kerja
Hemat Energi
==============
©2026
Tim Komunikasi Publik dan TI
Kanwil Kemenkum Papua
#NyamanBersama
#KitaMulaiCaraBaru
#KemenkumPapua
#KementerianHukum
#Pastitifa #LayananHukumMakinMudah
